Tantangan Baru

Actually, being a food scientist is not my ideals choice. I prefer to be a doctor, a certified publicacountant, or a manager maybe. Tidak pernah terpikir dalam benak saya untuk kuliah di Bogor, di tempat yang jauh dari orang tua. Saya lebih memilih kuliah di Jawa Tengah, dan orang tua saya pun berpikir hal yang sama. Saya juga tidak pernah berpikir untuk kuliah di jurusan teknologi pangan, sebuah jurusan yang sama sekali asing bagi saya. Begitu mendengar kata teknologi pangan, saya berpikir, apa yang dapat saya lakukan di masa depan dengan basic Food Science and Technology?

Saya adalah orang yang menyukai tantangan dan senang dengan hal-hal yang baru. Saya, pada akhirnya memilih Ilmu dan Teknologi Pangan sebagai bidang yang akan saya tekuni di bangku perkuliahan karena saya merasa tertantang untuk mencobanya. Rasa keingintahuan saya yang besar yang akhirnya mendorong saya untuk memilih Ilmu dan Teknologi Pangan. Saat itu saya benar-benar tidak mengetahui apapun tentang Institut Pertanian Bogor, lebih-lebih tentang Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan. bisa dikatakan bahwa saya ‘buta’ mengenai hal itu. Sejak saya menetapkan pilihan itu, saya mulai mencari semua hal tentang teknologi pangan. Mulai dari lingkup kajiannya, hingga pekerjaan setelah lulus nanti. Saya pikir ini menarik. Sebelum memilih IPB, saya hampir mendaftar PMDK di Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo. Dengan alasan dekat dengan orang tua. Namun, guru Bimbingan Konseling saya menyarankan untuk mencoba PMDK di IPB. Menurut beliau, IPB memiliki kualitas dan fasilitas yang jauh lebih baik daripada di UNS. dilihat dari fasilitas-fasilitas pendidikan, laboratorium penelitian yang modern dan sangat mendukung perkuliahan, hingga kompetensi dosen dan mahasiswa yang tidak perlu diragukan lagi kompetensinya. selain itu, ikatan alumni Ilmu dan Teknologi Pangan IPB juga tergolong kuat. hal ini dengan adanya milis-milis yang menyajikan lowongan pekerjaan dan kesempatan magang bagi adik-adik kelasnya. Terdapat pula program internasional yang memungkinkan mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan bertaraf internasional dari IFT. Dengan prinsip coba-coba akhirnya saya memilih IPB. Kalau diterima ya Alhamdulillah, kalau tidak diterima ya cari yang lain lagi.

Awalnya, saya tidak mendapat restu dari orang tua saya, terutama ibu. Beliau berpikir, untuk apa kuliah jauh-jauh, yang dekat saja kan banyak. Maklum, saya adalah anak pertama di keluarga saya, dan terlebih lagi saya perempuan.

“Untuk apa kuliah pertanian? Mending kedokteran atau jadi guru. Kan sekarang lagi ada sertifikasi guru, gajinya bisa sampai dua kali lipat.” Begitu kata ibu saya saat saya menjelaskan saya ingin masuk Institut Pertanian Bogor

Ya, dokter dan guru masih menjadi profesi yang ‘agung’ di kampung saya di Jawa Tengah. Orang tua lebih bangga menyebutkan anaknya kuliah di fakultas kedokteran, fakultas ekonomi, atau fakultas keguruan dari universitas ternama daripada menyebutkan anaknya kuliah di fakultas pertanian. Bahkan saya sempat mengikuti tes masuk fakultas kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri yang ternama di Jawa Tengah untuk membesarkan hati ibu saya. Walaupun akhirnya saya tidak diterima di perguruan tinggi tersebut dan takdir menetapkan saya kuliah di IPB.

Dan dibalik semua takdir yang menetapkan saya di IPB, ada sosok ayah yang sangat saya kagumi. Saya sangat bersyukur mempunyai ayah yang bijaksana, berpandangan luas, dan arif dalam memberikan keputusan. Ayah saya sangat mendukung langkah apapun yang ingin saya ambil selama saya dapat bertanggung jawab atas pilihan saya, termasuk saat saya memutuskan untuk menekuni dunia pangan. Walaupun saya tahu, ayah saya memiliki keinginan yang sama dengan ibu saya, yaitu ingin saya menjadi dokter, profesi yang jelas, penghasilan yang jelas, dan kehidupan social yang jelas. Namun, pada akhirnya ayah saya mampu menerima pilihan dan alasan saya dan meyakinkan ibu saya bahwa pilihan saya juga tidak buruk.

Yang membuat saya tertarik dengan teknologi pangan adalah banyak pengetahuan yang saya dapat ketika saya belajar nanti. Saya menjadi tahu komponen pangan pembentuk makanan yang saya makan, bagaimana teknik-teknik pengolahan pangan
yang baik, dan dengan bekal ilmu yang saya miliki saya ingin menjadi bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan di sekitar saya. Saya pernah bercita-cita bekerja di Badan Pengawas Obat dan Makanan, sehingga saya bisa meneliti makanan dan minuman yang beredar di masyarakat, apakah makanan tersebut layak dikonsumsi atau tidak. Dan bahkan saya menulis kalimat Kepala BPOM RI 2032 tepat di bawah tanda tangan dan nama saya di textbook apapun yang saya miliki.

Namun, ibu saya lebih menginginkan saya menjadi seorang pengusaha, dan lagi-lagi alasannya adalah karena ibu saya tidak ingin berjauhan dengan saya. Apabila saya berwirausaha nanti, saya bisa membangun kerajaan bisnis saya di kampung halaman saya, sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja di lingkungan tempat tinggal saya. selain itu, di daerah tempat tinggal saya banyak bahan pangan fungsional yang bisa diolah menjadi pangan fungsional. sebagai contoh, melinjo yang mengandung antioksidan tinggi dan dapat diolah menjadi berbagai macam olahan, buah kemang, berbagai macam umbi-umbian, dan lain-lain.

Setelah semua proses panjang tersebut, saya bertekad untuk keputusan besar yang saya ambil untuk hidup saya, bahwa saya harus bias menjadi orang yang sukses, dari bidang yang saya ambil ini, saya berjanji untuk membahagiakan orang tua saya, memberikan semua hal yang ‘jelas’ bagi orang tua saya, dan menjadi anak kebanggan orang tua saya, sehingga orang tua saya dengan bangga menyebutkan kepada orang lain bahwa anaknya juga bisa sukses dengan kuliah di sekolah pertanian.

Posted in Uncategorized | Leave a comment